Sebenarnya mudah saja aku mengatakan cinta, susahnya apa sih? Say "I Love You", just 3 words, but if I don't really mean it? Oh that will be a trouble!

Ada sebuah ketakutan pribadi, tersimpan dalam hatiku, hm . . . bukan tentang komitmen, bukan pula tentang tanggung jawab, tapi tentang siapa dan apa yang sebenarnya ingin aku temukan. Jujur saja aku tipe orang yang menilai perempuan sebagai seorang "Putri", ya tentunya putri bagi pangerannya masing-masing, tapi aku mau seorang Putri yang kuat dan hebat, hm . . . sebenarnya lebih tepat ke "Mau belajar".

Kadang tersibak dua pertanyaan yang seringkali Allah tanyakan di dalam hatiku, "Kau ingin mencari seorang Putri" ataukah "Berjuang bersama seorang Putri?". Dalam hatiku terlintas, "Well, memang apa bedanya?" Lalu Ia mengajarkanku tentang "Nilai Historis". Pemahamanku berubah ketika aku dihadapkan pada dua pilihan, seorang Putri yang Maha Sempurna yang jatuh cinta kepadaku ataukah seorang Gadis kecil yang cintanya sederhana namun mau berusaha dan menjelma menjadi seorang Ratu. Hm . . . awalnya memang sangat sulit, sungguh, kalau harus memilih aku lebih suka memilih nomor 1 tapi hatiku tergerak, aku bukan menginginkan hasilnya saja, tapi aku ingin membantu dia menjadi seorang Ratu. Aku selalu berharap dan berdoa dipertemukan dengan pasangan yang sederhana namun bijaksana, pasangan yang meskipun ia lemah tapi mau berubah, karena kelemahan justru seringkali membuat kita bijaksana

Dengan pemahaman yang baik tentang pemberian Allah kita akan bisa melihat kehidupan dari sisi yang tidak sempurna, sebuah kesempurnaan dibalik ketidaksempurnaan dan sebaliknya. Dua perspektif yang berbeda namun saling mewarnai. Sungguh, jika Tuhan mengizinkan, aku ingin membantunya menjadi seorang Ratu, melindungi Raga dan Jiwanya, membuka jalan, membeli waktu, melihat gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang Ratu yang bijaksana suatu saat nanti - karena bukan hanya anak saja yang perlu kau besarkan tapi pasangan juga sama hakikatnya

Tapi untuk menjadi seperti itu aku juga harus belajar, belaaaajaaaaar banyaaaaak hal, walau begitu Ada Dua ketakutanku, "I Don't Make it in Time" and "I Don't Find Her in Time". Sebuah rahasia Ruang dan Waktu seringkali sangatlah menarik, dimana Tuhan menciptakan sebuah "Konspirasi" yang membawa kita pada satu alur dan panggung yang sama diatas nama Cinta, wahahaha puitis autis lah ya.

Setiap perempuan yang aku suka dari dulu sampai sekarang, selalu aku tanya pertanyaan yang sama tentang kesempurnaan, "You are Lovely, Mature, Smart, Tough, Honest, Kind, and etc", tapi ini bukan gombalan, sebenarnya ini adalah tantangan sekaligus ungkapan sih hahaha, My Type, oh no no no no, actually My Type to Be, Daaaaan kebanyakan dari perempuan yang aku suka itu bilang "NOOOOOO That's to perfect for meeeeeeee!" Well yaaaah, aku bukannya tidak menghargai ketidaksempurnaan tapi tiada yang paling aku benci daripada "Orang yang menghambat dirinya sendiri". Sikap optimistik sih yang pengen aku uji sebenarnya, Tentang kepercayaan diri mereka, "It doesn't matter if she don't make it, at least she is try her best, beside there is me, the true meaning of my Existence is to protect her and make sure she make it at last". But Hard to find such girl, I am affraid I don't find her in time

Fell Love and Fall Again (Another Perspective, My Fear)

Posted by : Rendezvous 0 Comments
After Last three post I've just say and spill the beans like a stupei haha, now I've learn much more better about things and looks like it is start to be under control now. Ya, sebenarnya logikanya sederhana, jika cinta itu sempurna dan menyempurnakan maka hakikat cinta sendiri adalah berusaha lebih baik. Layaknya dua sisi koin yang berbeda namun bersinggugan antara satu dengan yang lainnya, lawan kata dari cinta adalah benci tapi lawan makna nya adalah "ketidak-pedulian". Benci dan ketidakpedulian adalah dua hal yang berbeda dalam satu proses yang sama menurutku.

Kadang di dalam sebuah hubungan terselip rasa suka entah itu rasa suka karena tampilan fisik ibarat hardware atau kepribadian seseorang ibarat software dan potensi seseorang ibaratnya sih maintenance. ketiga element penting inilah yang menyusun individu dalam sebuah kesatuan yang utuh, walaupun dalam kebijaksanaan jawa lainnya juga disebutkan adanya "bibit" atau Pabrik asal muasalnya, tapi untuk sekarang mari kita kesampingkan itu. Jika melihat seorang individu secara utuh, terutama lawan jenis, dalam pandanganku sendiri, kebanyakan perempuan hanya melihat tampilan fisik atau terjebak dalam nostalgia gemerlap tampilan fisik laki-laki, walau hal yang sama juga terjadi pada laki-laki, okay lah let be fair, we men see women from the top to the down, mata lelaki dewasa biasanya sangat jeli, mulai dari kualitas muka, dada itu, perut, pinggul, paha, hingga jenjang kaki, don't say I pervert, I just being honest, dan jangan munafik, laki-laki dan perempuan pasti mengharapkan pasangan yang baik tapi . . . . bukan hanya secara fisik, okay? Bukan hanya mobilnya doang, handphone nya doang, atau isi koceknya doang.

Software atau kepribadian juga ga kalah pentingnya dalam menambahkan kriteria pasangan, hal ini termasuk kepercayaan dan agama, karena agama dalam pandangan "wiseman" bukan hanya sebuah identitas dan cara peribadatan saja, namun orang yang mendalami agamanya dengan baik pasti mengerti "Cara memahami hidup, hubungan, hukum, dan tujuan dari ketuhanan itu sendiri". Islam misalnya bukan hanya memberikan kita pemahaman mengenai arti kehidupan, namun juga permasalahan ketuhanan, kenapa sih kita solat? Simple word to say, sebenarnya Allah ga butuh solat kita, serius deh, kita itu siapa sih? sampai-sampai Allah membutuhkan kita? Hahaha kita cuman ciptaanya aja, kitalah yang membutuhkan Allah, tapi mari kita kesampingkan fokus ini dalam bahasan yang lain, okay? Singkat katanya gimana? Sofware bukan hanya SQ semata namun juga IQ dan EQ, ketiganya menjadi sebuah kesatuan individu dan menyempurnakan individu tersebut. Bisa saja orang bersembunyi dalam kedok agamanya saja (Baca: STMJ - Solat Taat Maksiat Jalan), tapi yang perlu diperhatikan disini adalah tentang "kesehariannya" atau daily karakter orang tersebut. Mulai dari kepedulian, tingkat kepercayaan diri, self control (kontrol emosi, kontrol prioritas), pola hubungan dengan teman, bla bla bla, visi kedepan juga merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan, dan kadang baik cowok atau cewek "miss" disini, kenapa? Karena mereka ga bisa lihat "Potensi dari pasangan mereka"

Bebicara tentang "Potensi", dua variabel yang mempengaruhi disini adalah "Effort" dan "Time". Kadang baik cowo dan cewe dalam melihat pasangan (terutama para alay dalam pacaran) ga bisa melihat Potensi dari lawan mainnya. "Kan katanya cinta itu apa adanya, kan katanya cinta itu menerima" - Hoy! Dengerin lagunya "tulus" dulu deh, Jangan cintai aku apa adanya! Potensi menjadi unsur yang penting karena ada orang keren yang emang keren dari awal tapi ga berubah dan berkembang sampai akhir, tapi ada juga seorang pengecut yang justru jadi pahlawan diakhir cerita. Why? Because they have a growth and grown! Jangan tertipu pada imaji semu pasangan, kalau potensi mereka NOL! Kalau boleh memilih justru pilihlah anak udik itu, anak udik yang mau berusaha itu, yang walaupun dia berasal dari desa terpencil tapi militansi dan daya juangnya tinggi! Suatu saat dia akan berubah menjadi "Son of a Man!" - Phill Collins haha. 

Coba juga dengerin lagunya Dewi Lestari "Malaikat juga tahu" atau "Sewindu"-nya punya Tulus, why? Untuk memahami hakikat cintalah apa lagi, cinta itu bukan hanya masalah kebersamaan dan kebahagiaan, tapi juga kebaikan bersama dan tumbuh tua dan dewasa bersama. Itulah alasan kenapa Ayah-Ibu ku memutuskan untuk menikah, karena mereka melihat cinta dalam perspektif yang sempurna, sempurna yang bukan tanpa celah, tapi saling melengkapi, sisi demi sisi menutupi celah dan kekurangan satu sama lain. Mereka ingin tumbuh bersama, menua berdua, mengarungi setiap petualangan, bahagia dan duka, canda dan luka bersama. Memang bersamanya penting, tapi tujuan dan komitmenlah yang membuat mereka bersama.
Kalau dalam semangat perjuangan masa lampau, Laki-laki hanya mempercayakan "punggungnya" kepada satu-satunya perempuan yang paling dicintainya, dibalik punggungnya terbentang kelemahannya dan semua ketidaksempurnaanya, sebuah kehangatan dibalik ketegasannya, sebuah kerapuhan jiwa, sebuah sisi yang seringkali lepas dari pandangannya. Jadi praktis "Ada kriteria tertentu" yang mendasari kita memilih seseorang, variabel dan kesesuainya juga harus diperhatikan.

"Cinta seorang yang dewasa berbeda dengan cinta remaja tanggung usia, diantaranya disisipi masa depan dan tanggung jawab, bukan bualan cinta dan ketidakpastian"

Bagaimana denganku sendiri? Well yah, aku hanya orang biasa, tapi aku menolak untuk hidup biasa saja, "Aku punya potensi" dan emang ga semua orang bisa lihat, oh atau lebih tepatnya emang ga semua orang aku perlihatkan potensiku. "Terlalu mudah untuk mencintai seseorang yang punya banyak kelebihan, kadang kita tertipu dalam paradigma kesempurnaan dan lupa esensi dari perjuangan. Aku ga akan sempurna dan ga akan pernah sempurna, karena sempurna adalah batasan, but that's why kita butuh pasangan, untuk menyempurnakan. Aku selalu berharap punya satu at least, walau dia entah dimana, tapi aku adalah penganut kepercayaan bahwa jodoh itu dekat, walau kadang justru tidak terlihat.






Fell Love and Fall Again (Self Revised)

Posted by : Rendezvous 0 Comments



"Cinta itu sederhana, hanya terkadang orangnya saja yang membuatnya rumit"

Suka juga sederhana kan? atau engga? sesederhana kita menyukai sesuatu, tapi ga semua orang suka atas perubahan, yah begitulah. Untuk beberapa saat aku tenggelam, menyelam, merasakan lagi, sesuatu yang namanya sakit hati, walaupun kalau dipikir rasional "Ngapain sakit hati coba, orang gitu doang, bego banget". But man, that's happen. Aku hanya benci diabaikan, really it suck! "Who do you think you are?

Aaaaahhh okay, it's hard to find a good girl in a good quality, for real, well aku ga pernah bilang dia cewe yang ga baik, tapi mungkin akan lebih baik lagi buat orang lain. Padahal banyak cerita yang pengen aku bagi, banyak hal yang pengen aku tunjukan ke dia karena aku pikir dia punya pandangan dan perspektif yang mirip denganku. "Well believe me, being born from a royal family doesn't give all the good in the world, I've been proved it". Aku bahkan berniat membina hubungan yang baik dan serius, yah walaupun ga sebagai pasangan mungkin sebagai teman baik? Siapa yang tau masa depan? Just wanna make a relationship, it is not always about being a couple or something, sometimes being friends is as good as the other one" tapi yaaaaaah dia terlalu sibuk, so what i can say? Nothin at all

"Right fool, now start to move you ass out of this sick joke" - Said the brain
"All right, sorry if I had drag you into a trouble" Heart
"It is okay, having you fine, no scratch, no break, it is good" Brain
"Thanks" Heart
"I am glad you still alive" Brain
"Yeah"
"So let me erase her from our world okay? he-he-he" Brain
"??????"

Lalu aku menghadap tuhan lagi hari hari setelah itu, "Tuhan, kau bercanda ya? Ini tidak lucu, sungguh, aku sakit hati karena hal yang sederhana" lalu entah bagaimana aku tertawa, mentertawakan diriku sendiri, hahaha good one God! menurutku ga ada yang lebih epik daripada ketika kamu menertawakan dirimu sendiri saat kamu justru dilanda kesusahan.

Bisa aja aku mengutuk keadaan, bisa aja aku mengirim "sesuatu itu", bisa saja dia tertimpa kesialan sepanjang bulanku ini, but I am not doing it! not me, not my pals, and not the "things" that guard me.


"Calm down Mikhail, brain is good! -said the brain
"You too Akbara, heart is fine! -said the heart

one last word: "Thanks for make me feel what love, or . . at least feel liking someone, oh yeah thanks too for make me feel jealousy, agony, anger, and hatred once again, been sooooo loooong a go, feel nostalgic, and I am glad, my heart still alive, I hope you have the good test too. Who ever know that your heart works fine, maybe it is need to be torn apart first right? or not? haha just kidding, hope you get good, however we know and God know,  you won't :D, oh no no no I beg God to give you a good lesson too, instead of anything bad, hope Allah with you, or not? haha, depends on yourself, change yourself, because I do pray for you, don't let my prayed get wasted okay, you don't like to be wasted too aren't ya? :D"

Fell Love and Fall again (Thanks god, My heart Ache! Good Jokes!)

Posted by : Rendezvous 0 Comments


Kau tahu, Nak,
Kasih sayang tidak dibisikkan lewat kata-kata
Karena setelah kata itu hilang, tiada yang tersisa
Kasih sayang juga tidak dituliskan di atas kertas, batu, bahkan besi sekalipun
Karena kertas bisa robek, batu bisa hancur, dan baja besi bisa berkarat, dan tiada yang tersisa
Kasih sayang pun tidak disimbolkan dengan cincin, hadiah, dan sebagainya
Karena benda di dunia tiada yang abadi, akan rusak pun binasa
Kasih sayang selalu dituliskan dengan perbuatan
Lantas perbuatan mengukir kenangan dalam waktu
Akan terus dipeluk erat oleh para pencinta yang mengerti
Menyajak kasih sayang sesuai petunjuknya
Tidak melanggar batas, tidak pula melampaui nafsu
Hingga kelak kemudian bertemu kembali
Dalam janji Tuhan yang sungguh pasti
Sungguh beruntunglah mereka.
*Tere Liye

Tak Bisa dituliskan - Tere Liye

Posted by : Rendezvous 0 Comments
sumber: tribunnews.com

Dalam sebuah wawancara yang digelar NET TV bersama Probowo Subianto di kediamannya di Bukit Hambalang, Bogor, beberapa waktu lalu, Prabowo mengatakan bahwa dirinya sangat mendukung paham neoliberalisme. Dan jika terpilih menjadi Presiden, dirinya akan menerapkan paham tersebut di Indonesia.
Menurut Prabowo, investasi asing di Indonesia itu sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dan dirinya mengaku tahu betul bagaimana mengimplementasikan paham tersebut bagi kepentingan ekonomi Indonesia ke depan.

“Bila nanti saya mendapat mandat, saya mengerti sekali bagaimana mengimplemantasikan paham neoliberalisme di Indonesia,” kata Prabowo.

Apakah sebenarnya arti neoliberalisme sehingga Prabowo menganggap paham tersebut penting dianut dalam sistem ekonomi Indonesia? Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Sri Edi Swasono memiliki catatan tersendiri mengenai paham neoliberalisme.

Pertama, Neoliberalisme adalah kelanjutan dari liberalism jaman penjajahan yang ditentang keras oleh Soekarno dan Hatta. Neoliberalisme adalah mekanisme penjajahan ekonomi baru.

Kedua, Neoliberalisme sangat bertentangan dengan sistem ekonomi Indonesia yang berdimensi kerakyatan. Neoliberalisme membuka keran investasi asing sebesar – besarnya yang dapat mendominasi perekonomian tanah air dan membuah ekonomi rakyat kian terpuruk.

Ketiga, neoliberalisme mengutamakan kepentingan pemodal atau kapitalis atau juga investor sehingga menempatkannya diposisi sentral substansial. Sementara poisisi rakyat diletakkan pada posisi marginal residula atau pinggiran.

Keempat, neoliberalisme menggusur rakyat miskin, pembangunan rakyat tidak inherent dengan pembangunan ekonomi.

Kelima, neoliberalisme akan menjajah Indonesia dengan pola baru. Rakyat menjadi budak di negerinya sendiri. Rakyat akan berada dicengkraman kapitalisme neoliberalisme yang merupakan penghisapan dan penindasan struktural, dll.

Inilah arti paham neoliberalisme yang sesungguhnya dapat mematikan ekonomi kerakyatan Indonesia tanpa ampun. Oelh karena itu, Profesor Sri Edi Swasono sangat mengkritisi paham tersebut karena dinilai dapat mengancam kedaulatan bangsa dan negara.

Inilah paham ekonomi yang akan diterapkan Probowo jika terpilih sebagai Presiden dalam Pemilu 2014. Prabowo akan mengembalikan Indonesia kepada negara – negara penjajahan. Kemerdekaan yang diperjuangkan oleh pendahulu akan kembali direnggut

sumber: tribunnews.com

Prabowo: Jika Jadi Presiden, Saya Akan Terapkan Neoliberalisme di Indonesia - Masih berpikir Prabowo PRO PUBLIK?

Posted by : Rendezvous 0 Comments

Saya menemukan hal-hal lucu yang tidak lucu, betapa ajaibnya tanggapan manusia saat datang sebuah nasehat. Agar tulisan ini menjadi komprehensif, maka akan saya daftar hal-hal lucu yang tidak lucu tersebut.

1. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Urus saja urusan masing-masing"
Ini lucu tapi tidak lucu, karena hampir setiap manusia yang mengaku muslim tahu surah pendek yang penting sekali. Impossible jika mereka bilang tidak tahu, karena surah ini masuk dalam surah yang bahkan diajarkan saat TK, SD, usia kanak-kanak. Yaitu surat Al 'Ashr: (I) Wal Asri (II) Innal Insan nalafi khusr, (III) ilallazi na'amanu wa'amilus sallehati, Watawa saubil haq watawa saubil sabr.
Tahu, kan? Apa terjemahan surah itu? Here we go: (I) Demi masa, (II) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (III) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Jelas sudah, surah ini bilang manusia itu dalam posisi default rugi. Saya, anda, kita semua dalam posisi rugi. Kecuali yang melakukan tiga hal: beriman, mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati. Maka, orang-orang yang bilang urus saja urusan masing-masing, jelas sekali tidak paham agamanya.

2. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Jangan sok suci."
Jika urusan saling menasehati harus menunggu semua orang suci dulu, maka bubar kehidupan ini. Ini juga favorit sekali reaksi orang-orang yang ogah dinasehati. Kalaupun seseorang itu tidak suci, maka bukan berarti kewajiban untuk menasehati jadi gugur. Adalah jalan menuju kebaikan ketika seseorang rajin mengingatkan, menasehati, secara terus menerus, hingga akhirnya perbuatan maksiat, dosa yang dia lakukan menjadi berangsur-angsur berkurang. Ada banyak nasehat ulama besar atas hal ini, silahkan dibaca buku2 mereka. Betapa indah nasehat tersebut.

3. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Memangnya lu sudah melakukan apa yg lu bilang."
Bukan urusan kita menilai hal ini. Itu urusan Tuhan. Jelas bahwa: besar sekali kebencian Tuhan atas orang-orang yang tidak melakukan apa yang dia katakan. Tapi itu bukan urusan kita. Jika setiap kali nasehat datang, kita sibuk bertanya hal ini, memang lu sudah? Maka rusaklah keseimbangan dalam masyarakat. Kalaupun kita tahu seseorang itu memang munafik pol, pendusta maksimal, hanya pencitraan saja nasehatnya, jangan diserang dengan kalimat tersebut, didiamkan saja, jika memang tidak tahan lagi, lakukan secara personal dan langsung. Ini kadang mengenaskan sekali, masa' kita bertengkar ditonton banyak orang. Membuat orang lupa substansi nasehatnya.
Nah, jika masih mau ngotot tidak suka sama yg memberikan nasehat, silahkan besok lusa pas shalat Jum'at atau Idul Fitri, kalian berseru ke khatibnya, "Memangnya ente sudah melakukan apa yg lu ceramahkan, Khatib?". Berani tidak? Jangan beraninya hanya di media sosial. Yg bisa berlindung karena tdk kelihatan fisiknya.

4. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Bisa nggak sih dakwahnya lebih santun."
Tidak ada nasehat baik yang keliru. Yang salah itu orang2 yang tidak memberikan nasehat. Ketika kita kehilangan argumen secara substansif untuk ngeles, kehabisan argumen berdasarkan dalil untuk membantah sebuah nasehat, maka jangan pernah justeru menyerang sisi elementernya. Menyenangkan memang melakukannya, karena memberi kepuasan temporer di hati, tapi itu dusta hati yang kotor, tapi, tapi, tapi, itu semua kulit bawang halus yang kita ciptakan untuk membentengi kesalahan. Dan hal ini amat kontraproduktif, bayangkan, kita menyerang langsung secara terbuka ditonton banyak orang. Maka orang-orang lebih asyik menonton, bukan mendengarkan substansi nasehat. Saya menyarankan semua orang rajin membaca terjemahan Al Qur'an, membaca hadist, boleh jadi, kalian akan paham betapa banyaknya peringatan yang disampaikan dengan keras, perumpamaan yang sangat menohok hati (manusia disamakan dengan binatang ternak), dsbgnya.

5. Ketika datang nasehat, mereka berkata: "Lantas lu siapa yang menasehati?"
Emosi sesaat yang muncul karena kita menolak sesuatu masuk. Jangan pernah jadikan itu alasan untuk menyimpulkan sesuatu yang boleh jadi tidak benar, hanya prasangka kita saja. Kita kenal juga nggak dengan orang yang memberikan nasehat. Menurut orang banyak, justeru sebaliknya, bisa melihat dengan lebih kristal, kalau orang yang memberikan nasehat terbuka atas saling menasehati, terbuka atas pro dan kontra, dan jelas membiarkan orang lain membantah. Menurut ego kita saja yang tidak.
Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah nasehat menawan hati, yang saya temukan dari film: bahwa berbuat baik, termasuk di dalamnya saling menasehati adalah tanggung-jawab (responsibility). Tidak pernah menjadi pilihan (choice).
Nah, peradaban manusia bisa bertahan ratusan karena masih ada yang mengambil tanggung-jawab tersebut, jika tidak, maka dia akan hancur binasa oleh tangan manusia sendiri, atau digulung oleh azab Tuhan. Bacalah sejarah2 peradaban lama. Pastikan bahwa nasehat itu ada dua kaki: Amar ma'ruf, nahi munkar. Menyeru kepada kebaikan, itu sudah banyak, tapi yang mencegah kemungkaran, berdiri gagah mengingatkan hal2 mungkar, kita semua dibebani kewajiban tersebut.

--Tere Liye, repos

Hal lucu (melucu) tapi ga lucu - Tere Liye

Posted by : Rendezvous 0 Comments



Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas di lihat, barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.

Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.


Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih.

Astaga, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp 7.500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp 250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.

Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp 10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis.

Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini : “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.

Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka semoga saja perbuatan baik kita dapat berbuah menjadi suatu akibat yang baik pula, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Renungan ... "Kisah Nyata Bapak Tua Penjual Amplop"

- Copyright © 2013 AlL-A.M - Shingeki No Kyojin - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -